Tampilkan postingan dengan label for my inspiration. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label for my inspiration. Tampilkan semua postingan

Rabu, 02 April 2014

PHINISI AJU TABU dan SENJA

"PHINISI AJU TABU' DAN SENJA"

Senja, dalam menatap sorot jinggamu yang berkilatan
phinisi aju tabu' kadang terdiam
seperti merayapi seluruh waktu yang gelisah
yang setiap detik menikam jiwa

terkadang, kala memanggilmu dalam diam
tergagap memandang cinta yang tak usang
walau mungkin makna meniada kau dapat
oleh sebab tanya yang selalu tertunda disampaikan

Senja, phinisi aju tabu' terayun-ayun ditengah nasibnya
menunggu fatamorgana yang menjelma pantai
benar-benar mewujud labuhan cahayamu
untuk segera bersandar di pangkuan jinggamu

Phinisi aju tabu', dalam jiwanya yang tak lagi bisa menawar
setiap penanda bagai tamu yang datang perlahan
dengan langkah-langkah hening hatinya getar bergumam ragu
tak mungkin Phinisi aju tabu' yang lapuk rapuh hampir tenggelam
menyatakan sebenar asa pada senja yg bertahta di ufuk langit ketujuh itu
bahkan, lebih baik tenggelam jika harus menjadi phinisi dengan mahkota di tiap ujung tiangnya dengan layar dari sutra merah hanya agar bisa merebut hati sang senja
itu bukanlah petuah samudra yang ditaklukkannya

Senja, seperti apa Phinisi aju tabu' dimatamu
telah bertahu-tahun berdiri terombang ambing menatapmu dengan wajah berjelaga.
To be continued....

*Salman al farizi, 2 april 2014

Minggu, 01 September 2013

Kau berikan Al-Qur'an

Malam itu semua berjalan seperti biasanya
tidak ada pemikiran tidak ada khayalan ataupun permintaan dalam sebentuk munajat.
jam menunjukkan 22:17 AM (kalo tidak salah), matapun mulai meminta haknya,
waktunya istirahat setelah seharian dengan kesibukan di kantor.
Tak lupa berwudhu, baca do'a lalu zzZZzzZZ( gak ngorok loh, hihi).
nah, dalam tidur yang lelap itu, sosokmu kembali menghampiri,
seperti mimpi jauh sebelumnya, dengan gaun(gamis) putih sosokmu tersenyum penuh cahaya,
ekhhemm, pernah gak mimpi seperti itu??hihi, kayaknya gak ada yah!!
mimpi ini lebih penuh tanya dari sebelumnya(bukan pemimpi ya, tapi benar benar bermimpi).
mimpi yang terlalu takut pikiranku memaknai, mimpi yang terlalu naif bagi lidahku menafsirnya.
sebuah mimpi yang entah dengan apa ia bisa menghiasi tidurku.
yaa, memimpi sosokmu menghampiri lalu memberiku Al Qur'an Al Karim lalu menyuruhku membaca membacanya.
tanganku pun menggapainya kemudian membacanya lalu engkaupun mendengarnya dengan tertunduk(hehee, ini bukan sinetron ya, ini real, 1001% real).
sebuah mimpi yang semakin menjadikanku bergelut dengan pertanyaan-pertanyaan yang semakin sulit mentadbirnya.
adakah bermakna agar lebih memperbanyak membacanya (perasaan rajin, uhhuk)??
adakah berarti diri ini jauh dari Al Qur'an (yang ini biarlah hanya Alloh dan diri ini yang tahu)!!
ataukah bermakna jika kaulah tulang rusuk yang tertakdir di lauhul mahfudz(yang ini sih ngarep, Aamiinin aja dah, hihihi).
sebuah mimpi yang membawaku pada sesuatu yang disebut "menunggu, mattajeng, whaiting sampai pada akhirnya semua tertampak jelas di hadapan Tuhan.
yaa, kita tunggu saja kelanjutan kisah ini (sok ditunggu-tunggu kisahnya,hihii GeeR High level), hahaa, kata sebagian orang siih, GeeR itu sehat (pantas kurus terus nih body, hihihi..
wassalam..


Rabu, 19 September 2012

Karena Do'a, Si Buta Yang Miskin Mendapatkan Wanita Yang Sangat Cantik Jelita

Kisah ajaib ini, terjadi pada seorang buta lagi miskin yang dicampakkan oleh kaum wanita. Lalu dia berdo’a kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan Allah pun mengabulkan do’anya dengan gadis yang paling cantik di antara mereka. Kisah ini disebutkan oleh Syaikh Abdul ‘Aziz al-‘Aql dalam muhadarahnya yang berjudul Qashash wa ‘Ibar. Kisah nyata ini terjadi pada salah seorang kerabat Syaikh sendiri.
Syaikh Abdul Aziz mengatakan, “Diantara kisah yang pernah saya alami adalah seseorang dari famili saya yang hafal al-Qur’an, dan yang shalih. Saya mengenalnya dan kami mencintainya ketika kami masih kanak-kanak. Orang tadi ahli bersilaturahim dan selalu beristiqamah untuk taat kepada Allah. Dan dia adalah orang yang buta. Pada suatu hari, dia berkata kepada saya, “Hai anakku -waktu itu saya berumur 16 atau 17 tahun- kenapa kamu tidak menikah?” Saya jawab, “Hingga Allah memberi saya rizqi.” Dia berkata, “Wahai putraku, bersikap jujurlah kepada Allah, ketuklah pintu Allah, dan berharaplah, pintu kelapangan akan terbuka.” Kemudian dia berkata kepada saya, “Duduklah wahai putraku, aku akan menceritakan kepadamu, apa yang pernah aku alami dulu.”
Dia melanjutkan, “Saya dulu benar-benar miskin, ibu dan bapakku adalah orang miskin, kami semua sangat miskin, aku sendiri semenjak dilahirkan sudah menjadi orang yang buta, pendek dan papa. Segala sifat yang tidak disukai wanita ada padaku. Kemudian aku sangat menginginkan seorang wanita, akan tetapi kepada Allah aku tumpahkan seluruh keprihatinanku, karena dengan kondisiku yang seperti itu, akan sulit rasanya untuk mendapatkan seorang istri. Aku mendatangi ayahku kemudian mengatakan, “Wahai ayah, aku ingin menikah.” Maka ayahku mentertawakanku. Aku memahami bahwa tertawanya ayah adalah sebagai isyarat agar aku berputus asa dan melupakan keinginanku untuk menikah bahkan ayahku sempat mengatakan, “Apakah engkau gila nak? Siapa yang mau mengambilmu sebagai menantu? Pertama, kamu buta. Kedua, kita semua adalah orang yang sangat miskin. Sadarlah nak! Tidak ada jalan untuk itu.
Sebenarnya, dengan kata-katanya itu ayah telah membunuhku. Waktu itu aku berumur kira-kira 24 atau 25 tahun. Lalu akupun pergi menemui ibuku. Mengadukan perihalku, barangkali ia dapat membujuk ayahku. Hampir saja aku menangis, ketika ibuku juga mengucapkan kata-kata seperti yang diucapkan oleh ayah. Dia mengatakan, “Anakku, kamu akan nikah?! Apakah kamu tidak waras nak?! Siapa wanita yang mau sama kamu?! Daimana kamu mendapatkan harta?! Kamu tahu sendiri, bahwa kita semuanya ini sangat membutuhkan sedikit harta untuk bertahan hidup. Kemudian kamu juga jangan lupa, bahwa hutang kita telah menumpuk.” Aku tidak berputus asa, kuulangi lagi usahaku untuk memahamkan ayah dan ibuku. Akan tetapi sikap dan jawaban mereka tetap tidak berubah. Pada suatu malam, aku berkata, “Mengapa aku tidak mengadukan hal ini pada Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang? Mengapa aku merengek-rengek dihadapan ayah dan ibu yang memang tidak mampu melakukan apa-apa? Mengapa aku tidak mengetuk pintu ilahi yang Maha Kuasa dan Perkasa?” Lalu akupun shalat di akhir malam sebagaimana kebiasaanku. Aku mengangkat tangan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan aku katakan diantara do’aku,
Ya Allah, ya Tuhanku, mereka mengatakan kalau aku miskin padahal Engkaulah yang membuat aku miskin. Mereka mengatakan kalau aku buta, padahal Engkaulah yang mengambil penglihatanku. Mereka mengatakan kalau aku adalah jelek dan buruk, padahal Engkaulah yang menciptakan aku. Ilahi, Tuhanku, Tuanku dan Penolongku, tidak ada sesembahan yang benar kecuali Engkau, Engkau mengetahui apa yang ada di dalam jiwaku. Engkau mengetahui keinginanku untuk menikah, dan aku tidak ada daya dan upaya untuk itu. Ayah dan ibuku menyatakan tidak sanggup. Ya Allah, mereka memang tidak sanggup dan tidak mampu. Aku memahami kondisi mereka. Tetapi Engkau adalah Maha Mulia dan Perkasa yang tidak terkalahkan oleh apapun. Ilahi, kumohon satu rahmat dari rahmat-Mu. Wahai Tuhan yang Maha Mulia, Maha Pengasih dan Penyayang, berikanlah kepadaku dengan segera seorang istri yang penuh berkah, shalihah, dan cantik jelita. Yang menenangkan hatiku dan yang menyatukan jiwaku.
Aku berdo’a sementara kedua mataku, mengucurkan air mata dan hatiku menangis merendah dihadapan Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena aku shalat malam di awal waktu, maka akupun mengantuk. Ketika aku tertidur, aku bermimpi seolah-olah aku berada di sebuah tempat yang sangat panas. Sepertinya ada kobaran api yang sangat dahsyat. Tidak lama setelah itu, aku melihat ada satu kemah yang turun dari langit. Kemah yang sangat indah mempesona, belum pernah aku melihat sebelumnya. Hingga kemah itupun turun di atasku dan memayungiku. Bersamaan dengan itu, ada hawa dingin yang aku tidak mampu menceritakannya karena benar-benar membawa sebuah kedamaian, hingga aku terbangun karena kedinginan setelah merasa kepanasan yang amat sangat. Aku terbangun dan perasaanku sangat senang dengan mimpi tersebut. Di pagi yang buta aku pergi menemui seorang alim yang dapat menafsiri mimpi.
Maka setelah aku ceritakan apa yang kualami dalam mimpi itu, seorang alim tersebut mengatakan kepadaku, “Hai anakku, engkau sudah menikah, jika tidak, mengapa kamu tidak menikah?” Maka saya katakan, “Tidak, demi Allah saya belum menikah.” Dia bertanya, “Mengapa engkau tidak menikah?” Kukatakan, “Demi Allah Ya Syaikh, seperti yang engku ketahui, aku adalah seorang yang buta lagi miskin, dan buruk rupa.” Dia berkata, “Hai anakku, apakah tadi malam engkau telah mengetuk pintu Tuhan mu?” Kukatakan, “Ya, aku telah mengetuk pintu Tuhan ku.” Syaikh berkata, “Pergilah wahai putraku, perhatikanlah gadis yang paling cantik dalam benakmu dan pinanglah, karena pintu itu telah terbuka untukmu. Ambillah yang terbaik apa yang ada dalam dirimu dan jangan merasa rendah dengan mengatakan, “Aku adalah seorang yang buta, maka aku akan mencari wanita yang buta pula, jika tidak maka yang begini, dan yang begitu. Tetapi perhatikanlah gadis yang terbaik, karena pintu itu telah dibuka untukmu.”
Setelah aku berfikir dalam diriku, aku memilih gadis yang dikenal sebagai gadis yang paling cantik di daerah itu disamping memiliki nasab dan keluarga yang terhormat. Maka aku mendatangi ayah, kukatakan barangkali ayah mau pergi kepada mereka guna meminang gadis itu untukku. Ayah menolak dengan keras, lebih keras dari penolakannya yang pertama. Dia benar-benar menolak secara mentah-mentah mengingat rupaku yang buruk dan kemelaratanku, apalagi gadis yang kuinginkan adalah gadis yang paling cantik di negeri itu. Maka aku pergi sendiri. Aku bertamu kepada keluarga itu, mengucapkan salam kepada mereka dan mengatakan kepada orang tuanya, “Saya menginginkan Fulanah (maksudnya putrinya).” Dia menjawab, “Kamu menginginkan putriku?” Saya jawab, “Ya.” Maka dia menjawab, “Demi Allah, ahlan wasahlan, wahai putra Fulan, selamat datang wahai pembawa Al-Qur’an, demi Allah hai putraku, kami tidak mendapatkan laki-laki yang lebih baik darimu, akan tetapi aku berharap agar putriku mau menerimanya.” Kemudian ia pergi menuju putrinya dan mengatakan, “Wahai putriku, ini Fulan datang meminangmu. Memang dia buta akan tetapi dia hafal Al-Qur’an, dia menyimpan Al-Qur’an di dalam dadanya. Apabila engkau dapat merelakannya untukmu, maka tawakkallah kepada Allah.” Sang putripun menjawab, “Sesudahmu, tidak ada hal lain wahai ayah, kami bertawakkal kepada Allah.”
Selang sepekan setelah itu, wanita cantik itupun menjadi istri bagi si buta yang miskin dengan taufik Allah dan kemudahan dariNya karena keutamaan Al-Qur’an. Walhamdulillahirabbil ‘alamin.


Sumber: www.qiblati.com.
Artikel kisahislam.net

Selasa, 11 September 2012

Tepian Burdah Yaman

Tepian Burdah Yaman

Tatapanmu teduh
bak tepian burdah yaman
yang sempurna tenunannya

Penghuni langit gempar
mengapa tak datang
saat tombak mengancam
agar kau saksikan satu ruh
dengan dua raga menyandang
pedang dan mawar dari taman Ad Dhuha



>Salman Al Farizi<

Minggu, 18 Maret 2012